Sudah Terkikis Oleh Kepentingan

Mahasiswa dan Idealisme

Opini. Mahasiswa merupakan kaum intelektual, terpelajar, semangat, kritis dan terkenal dengan idealisme yang dimilikinya.

Idealisme merupakan prinsip dan pendirian yang tertanam dalam diri lalu di diwujudkan dalam berbagai sikap dan tindakan.

Sesuai dengan fitrah idealisme yaitu mewujudkan negara yang aman, damai, makmur dan berwibawa.

Maka dari itu idealisme yang dimiliki mahasiswa merupakan kekayaan yang kemudian digunakan untuk kepentingan masyarakat dengan memperjuangkan hak-hak yang dimiliki dan menyampaikan berbagai aspirasi-aspirasi dari berbagai kalangan masyarakat kepada para penguasa.

Mahasiswa merupakan rakyat biasa namun memiliki tempat berbeda. Mahasiswa berbeda dengan pemerintah, berbeda dengan rakyat. Mahasiswa berada di antara rakyat dan pemerintah, maka dari itu mahasiswa memiliki fungsi sebagai penyambung lidah pemerintah dan rakyat.

Pada posisi pemerintah mahasiswa memiliki fungsi untuk menerjemahkan, menyampaikan dan mensosialisasikan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah agar tidak terjadi kesalahpahaman masyarakat terhadap kebijakan yang dikeluarkan. Karena intelektualnya mahasiswa juga memiliki peran untuk membantu pemerintah dalam membangun bangsa dan negara.

Sedangkan sebagai rakyat mahasiswa memiliki fungsi untuk mengawasi jalannya pemerintahan, menyampaikan aspirasi-aspirasi masyarakat dan mahasiswa berada pada posisi terdepan dalam mengkritisi kebijakan pemerintah ketika tidak sesuai dengan kepentingan rakyat.

Mahasiswa juga memegang peranan yang sangat penting bagi perjalanan bangsa dan negara yaitu sebagai agen perubahan, agen kontrol sosial, generasi penerus dan gerakan moral.

Maka dari itu mahasiswa berada pada posisi yang sangat vital antara pemerintah dan rakyat, antara idealisme dan kenyataan. Ketika salah pergerakan maka akan timbul persepsi yang menyalahkan mahasiswa.

Terkadang ketika kita mempertahankan idealisme ternyata kita melihat kenyataan masyarakat yang semakin buruk. Ketika berpihak pada kenyataan, secara tidak sadar kita mengabaikan idealisme dan intelektual yang seharusnya kita terapkan.

Sejarah telah membuktikan bagaimana pada zaman penjajahan tahun 1908 terbentuknya gerakan pemuda budi utomo. Dilanjutkan tercetusnya sumpah pemuda 28 oktober 1928. Selanjutnya gerakan nmahasiswa angkatan 66 yang meneriakkan tritura (tri tuntutan rakyat) sekaligus penggulingan kekuasaan soekarno yang kala itu ingin berkuasa seumur hidup.

Angkatan 74 juga menuliskan sejarah Malari (Malapetaka Sebelas Januari). Kemudian gerakan mahasiswa Indonesia angkatan 78 yang menuntut isu toalisasi demokrasi, transparansi, akuntabilitas serta pelaksanaan pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen dengan ikon menolak Soeharto sebagai calon presiden dan akhirnya mereka mampu menghancurkan rezim orde baru yang berkuasa selama 32 tahun.

Kemudian pada tahun 2001 dengan pencabutan predikat presiden Gusdur “gitu aja kok repot”.

Inilah para mahaiswa Indonesia yang patut berpredikat sebagai relawan dan negarawan, karena gerakan dan perjuangan mereka semata-mata untuk membela kepentingan rakyat dan negara.

Namun saat ini, sejujurnya mahasiswa kehilangan jati dirinya yang semakin abu-abu. Mereka sekarang telah diwarnai oleh berbagai kepentingan yang merusak idealismenya. Idealisme mereka dalam pergerakan terpecah menjadi dua.

Mereka yang dirinya untuk pergerakan dan mereka yang pergerakan untuk dirinya. Mereka yang dirinya untuk pergerakan adalah orang-orang yang jujur, tidak munafik, loyalitas, memegang prinsip dan komitmen dalam perjuangan, Salah tetap salah dan benar tetap benar, menang atau kalah, hidup atau mati itulah resiko yang harus dihadapi dalam sebuah perjuangan. Merekalah mahasiswa yang sangat dirindukan oleh masyarakat dan negara untuk memperbaiki keterpurukan yang ada.

Sedangkan mereka yang pergerakan untuk dirinya adalah orang-orang yang menganggap dirinya idealis dan kritis padahal pragmatis, mengaku mempunyai kepedulian padahal hanyalah kemunafikan. Mereka mengikuti pergerakan hanya sekedar formalitas agar tidak dikatakan sebagai mahasiswa apatis dan mengeksistensikan dirinya dikalangan mahasiswa.

Idealisme mahasiswa mendapat tantangan ketika mereka telah keluar dari kampus setelah menyelesaikan urusan perkuliahannya yang disebut sebagai alumni dan menyandang gelar sebagai sarjana, kemudian mereka bekerja entah sebagai masyarakat biasa atau pejabat negara dan duduk di kursi-kursi jabatan di dalam sebuah gedung ataupun istana pemerintahan.

Namun nyatanya, idealisme yang mereka miliki seperti debu yang hilang tersapu air, hilang tenggelam bersama kemewahan yang telah mereka dapatkan. Seharusnya dengan duduk di kursi-kursi pemerintahan merupakan kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki birokrasi, tatanan, sistem dan kondisi pemerintahan yang memiliki kinerja yang buruk dan kurangnya kepercayaan dari masyarakat.

Sesuai dengan prinsip dan komitmen idealisme yang mereka miliki ketika menjadi mahasiswa yang berjuang untuk membela hak-hak rakyat, menegakkan keadilan, melawan kebusukan dan menyuarakan kebenaran.

Namun kenyataannya, kebanyakan dari mereka justru terjerumus ke dalam lembah hitam, mengikuti arus yang membawa mereka mengingkari idealismenya. Mungkin awalnya ada rasa ketidaknyamanan dari mereka dengan kondisi dan situasi lingkungan kerja yang ada, mereka mencoba mempertahankan idealismenya namun sulit karena bertentangan dengan kenyataan yang ada. Sehinggga lama-kelamaan mereka mencoba untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada, akhirnya rasa nyaman akan hal itu pun mereka rasakan karena tergiur akan kemewahan yang menyilaukan mata.

Akhirnya mereka malah menjadi orang-orang yang dulunya mereka sebut sebagai penjahat, ketika mereka berjuang membela kebenaran, kemudian mengeraskan suara ketika menyampaikan aspirasi rakyat. Hal tersebut mereka anggap sebagai angin lalu yang datang pada suatu masa, bukan untuk selamanya. Itulah realita yang terjadi sekarang, intelektual mereka bina, namun prinsip dan komitmen tidak mereka jaga.

Sejatinya mahasiswa dan idealisme adalah dua hal yang menyatu namun terkadang tidak berjalan bersamaan.

Idealisme adalah tantangan, karena ketika mempertahankan idealisme terkadang tidak sesuai dengan kenyataan dan ketika kita melihat kenyataan ternyata bertentangan dengan idealisme. Idealisme adalah kekayaan yang dimiliki oleh seorang mahasiswa.

Mau dibawa kemana, bagaimana ia mewujudkan, untuk apa idealisme yang dimiliki dan sampai kapan bisa bertahan tergantung pada setiap individu menanamkan idealisme dalam jiwa dan dirinya sebagai seorang intelektual.

Maka dari itu gunakanlah dan manfaatkanlah kesempatan yang ada, intelektual yang kalian miliki, pemikiran yang kritis dan idealisme yang tinggi untuk menjalankan peranan dan fungsi sebagai seorang mahasiswa, sesuai dengan tugasmu untuk menjalankan tridharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, pengabdian masyarakat dan penelitian.

Kemudian mengimplementasikannya dalam kehidupan sosial masyarakat yang nyata, membela kebenaran, melawan penindasan dan memeperjuangkan hak-hak mereka bukan menghamba pada keadaan yang ada.

Penulis : Hamdi

Mahasiswa UMRAH

Komentar

Terbaru