Kisah Syekh Burhanuddin Kembali ke Pariaman (4)

  • Whatsapp
Herri Firmansyah Khalipah XV Syekh Burhanuddin foto bersama dengan Abdul Wahid Khalipah VII Syekh Kuala Abfur Rauf Singkili. Dipemakaman Syekh Abdur Rauf Kuala, Aceh.

Setelah dirasa cukup menerima ilmu pengetahuan dari Syeikh Abdurrauf, maka tibalah saatnya pakiah Pono dikembalikan ke Pariaman meninggalkan Aceh guna mengembangkan Agama yang dia pelajari selama ini.

Masa pendidikan itu berakhir dengan perpisahan antara guru dan murid yang berlangsung dengan penuh kasih sayang.

Menurut cerita terjadi percakapan antara Syeikh Abdur Rauf dengan Syekh Burhanuddin yang berbunyi: “Saat ini berakhirlah ketabahan dan kesungguhan hatimu menuntut ilmu tiada taranya. Suka duka belajar telah engkau lalui dengan sepenuh hati.

Berbahagialah engkau, dengan rahmat dan karunia Tuhan, telah selamat menempuh masa khalwat 40 hari lamanya.

Engkau beruntung di dunia dan berbahagia di akhirat kelak.

Sekarang pulanglah engkau ke tanah tumpah darahmu menemui ibu bapamu yang telah lama engkau tinggalkan.

Di samping itu tugas berat dan mulia menantimu untuk mengembangkan Islam di sana,” Ujar Syeikh Abdurrauf yang disambut pakiah Pono dengan kalimat hamdallah “ Alhamdulillahi Rabblil A’lamien”.

Kemudian Syeikh Abdurrauf melanjutkan, “Pulanglah kamu kenegerimu, ajarkan ilmu yang ditakdirkan Allah, kalau kamu tetap kasih, takut dan malu kepadaku, maka kamu akan mendapat hikmah, tanganmu akan dicium raja-raja, Penghulu-penghulu, dan orang besar seluruh negeri, muridmu tidak akan putus hingga akhir Zaman, dan ilmu kamu akan memberkati dunia, karena hatimu telah terbuka dan aku mendoa ke hadhirat Allah subhanahu wata’ala, semoga cahaya hatimu menyinari seluruh alam Minangkabau.

Kini, engkau, aku lepaskan.

Namun dengarkan baik-baik!

Guru di Madinah ada empat orang, yakni Syekh Ahmad al Kusasi, Syekh Qadir al Jailani, Syekh Laumawi.

Ketika aku berangkat ke tanah Jawi ini, beliau memberi amanat yang harus kusampaikan kepadamu karena itu setelah ini engkau memakai nama Burhanuddin dimana nama tersebut pemberian dari guruku Syekh Ahmad al Kusasi itu untukmu, jauh sebelum engkau berguru padaku dan ia menitipkan sepasang jubah dan kopiah.

Terimalah ini dari padaku supaya sempurna amanat yang kubawa dan suatu kemuliaan bagi engkau dengan sepasang pakaian ini tanda Ijasah kebesaran ilmu yang penuh di dadamu!”. Demikian isi perbincangan mereka.

Kejadian itu terjadi sekitar Tahun 1686 M. dimana merupakan hari Keberangkatan pakiah Pono yang kini sudah bergelar Syeikh Burhanuddin untuk meninggalkan mesjid Singkil selama-lamanya.

Pakiah Pono alias Syeikh Burhanuddin dilepas Syeikh Abdurrauf dengan sebuah taufah dan membekalinya perahu disertai 70 orang yang akan mengawalnya selama dalam perjalanan.

Rombongan ini dipimpin oleh seorang panglima yang bernama Katik Sangko berasal dari Mudiak Padang Tandikek yang berlayar dengan tentara Hindu Rupik dan kemudian menuntut ilmu pada Syeikh Abdurrauf kini dia diminta untuk mengantarkan Syeikh Burhanuddin sampai di kampung halamannya.

Alasan Syeikh Abdurrauf membekali Syeikh Burhanuddin pengawal karena dia yakin nanti akan mendapat tantangan berat. sebab, kala itu masyarakat Pariaman masih kental memeluk agama Hindu Budha sehingga banyak tukang –tukang sihir akan merintangi, karena mereka tidak senang kesenangannya di usik dan di ganti.

Setelah bertolak dari Aceh rombongan Syeikh Burhanuddin singgah di Gunung Sitoli untuk menambah bekal air minum, maka disitu rombongan menggali sumur yang airnya tidak payau layaknya air dekat tepi Pantai melainkan bagai air pergunungan.

Setelah selesai shalat dan perbekalan dicukupkan, maka rombongan Syeikh Burhanuddin bertolak kembali menuju Pariaman.

Menurut hikayat sumur yang ditinggalkan itu dijadikan orang sebagai tempat berobat, maka bernamalah dia menjadi sumur niaik dan kemudian oleh perubahan dialek menjadi sumur nieh dan pulaunya dinamakan Pulau Nieh (kini namanya Kepulauan Nias).

Jauh berlayar akhirnya rombongan Syeikh Burhanuddin tiba di pulau Angso dimuka pantai Pariaman dan istirahat selama dua hari, kiranya selama itu pecah berita dimasyarakat bahwa ada rombongan kapal Aceh yang datang merapat di Pulau, nama panglimanya Katik Sangko membawa seorang yang bergelar Syeikh Burhanuddin dengan tujuan untuk mengembangkan agama baru.

Berita dari nelayan ini menyulut kemarahan tukang sihir, sehingga mereka mengeluarkan segala kepandaiannya untuk mengusir rombongan Syeikh Burhanuddin.

Hiruk pikuk kemarahan para tukang sihir tidak membuat gentar Katik Sangko, dia tetap menjalankan perintah gurunya mengantar Syeikh Burhanuddin ke Pariaman dengan selamat maka didayungnya kapal ke pantai.

Dipantai kedatangan mereka tidak disambut dengan baik, mereka ditolak sebelum mereka meyampaikan maksud kedatangannya.maka, terjadilah perkelahian yang memakan banyak korban baik dari Rombongan Katik Sangko maupun pihak penyihir, tempat tersebut kemudian dikenal dengan nama Ulakan yaitu tempat penolakan kedatangan Rombongan Syeikh Burhanuddin.

Berita perkelahian yang memakan korban ini sampai ke basa nan barampek di Tandikek Tujuh Koto, sehingga mereka segera menyusul untuk menangkap Katik Sangko.

Dugaan mereka salah kiranya, rombongan Katik Sangko sangat kuat, sehingga tiga dari keempat basa tersebut yaitu Gagak Tangah Padang, Sihujan Paneh, dan si Wama mati.

Peristiwa ini membuat Kalik-Kalik jantan gelap mata sementara rombonyan Katik Sangko juga banyak yang tewas.

Karena mengetahui Kalik-kalik jantan kebal terhadap senjata tajam, akhirnya Katik Sangko yang melapor pada Syeikh Burhanuddin. Oleh Syeikh Burhanuddin Katik Sangko disuruh kembali ke Aceh melapor pada Syeikh Abdurrauf tentang kejadian ini dan minta petunjuk. Bagaimana mengalahkan Kalik-kalik Jantan.

Oleh Syeikh Abdurrauf Katik Sangko diajarkan cara menghilangkan ilmu kebal Kalik-kalik Jantan dan 150 bala bantuan yang lebih berpengalaman dalam berperang dikirim.

Setelah bantuan tiba di pulau Angso, Syeikh Burhanuddin memerintahkan kembali menyerang dari pantai Pariaman dipagi hari. Maka, pertempuran kembali pecah dan kali ini Kalik Kalik Jantan membuat tameng rakyat sebagai pelindung, namun dia bisa didesak mundur hingga ke hulu batang Mangau di tepi hutan Tandikek Tujuh Koto. disitu rombongan Kalik Kalik jantan terdesak, namun berusaha bertahan dan akhirnya terbunuh oleh Katik Sangko.

Dan tempat pertahanan terakhir kalik-kalik Jantan itu diberi nama Koto Nan Alah.

Tewasnya Kalik-kalik jantan berdampak pada menyerahnya pengikut Kalik-kalik jantan di seluruh Pariaman, selanjutnya Katik Sangko dinobatkan menjadi Mufti di Tandikek.

Setelah merasa aman Syeikh Burhanuddin mulai mencari informasi tentang keberadaan kawan karibnya yang kiranya telah diangkat menjadi pemuka masyarakat dengan gelar Majolelo.

Maka melalui nelayan yang singgah dipulau, Syeikh Burhanuddin mengirim pesan pada Idris bahwa dia adalah si Pono yang dahulu pergi belajar ke Aceh.

Mendapat informasi bahwa yang datang adalah si Pono yang kini bergelar Syeikh Burhanuddin, maka Idris Majolelo mengajak Ninik Mamak, pemuka adat sanak kerabat dan tokoh masyarakat untuk menjemputnnya, karena mereka sudah mendengar makan tangan pasukan yang membawa Syeikh Burhanuddin, maka melalui pantai Pariaman Syeikh Burhanuddin di jemput. (Bersambung…)

Baca Juga :

Kisah Syeikh Burhanuddin dan Penyebaran Islam di Pariaman (1)

Kisah Syeikh Burhanudin Menggenal Agama Islam (2)

Kisah Syeikh Burhanudin Tiba di Singkil (3)

(BJ)

Pos terkait

Comment