Nyali Sang Penakluk Tebing Batu

  • Whatsapp

Tengah hari menunjukan pukul 13.00 wib, dilokasi tebing batu granit Kampung Budi Mulya Kijang Kota terlihat sepi. Tidak tampak aktifitas pekerja pemecah batu dibukit terjal tempat Sanen dan kawan-kawan mengais rezeki.

Tenda alakadarnya yang hanya terbuat dari sisa terpal dan spanduk untuk berteduh dari panas dan hujan itu hanya terlihat botol-botol wadah kopi susu dan cangkir plastik yang ada didepan.

Pecahan batu besar digunakan untuk meja dan bangku seadanya. Didalam tenda yang kelihatan ada lubang celah air hujan masuk, ada juga tempat tidur dari balok kayu besar beralaskan tikar lusuh untuk merebahkan badan usai mengumpulkan batu.

Ditenda tenpat istirahat para pemecah batu ini, hanya ada baju kaos dan celana kumal yang bergantungan di tenda untuk pakaian kerja.

Setengah jam kemudian muncul lelaki muda mengendarai motor metiknya, ia menyapa dengan panggilan pak ke kami dengan sedikit tersenyum. sepertinya, ia baru selesai istirahat makan siang dirumahnya, yang tidak jauh dari lokasi tempat ia mengais rezeki.

Lima menit kemudian datang Sanen yang juga pemecah batu. Laki-laki berjanggut tipis ini juga menyapa saya dengan pak. Ia juga melemparkan senyuman, sembari duduk ditenda dan mengisap rokok yang tersisa satu batang.

Awalnya saya menanyakan harga batu granit satu lorinya. ” 450 ribu satu lori,” jawabnya.

Percakapan kami tidak hanya seputar harga jual batu, sembari tersenyum Sanen mulai bercerita awal mula sebagai pemecah batu.

Sepertinya Sanen memang sangat menekuni pekerjaan yang menanantang nyawa ini. Tuntutan ekonomi untuk menafkahi istri dan satu anaknya.

“Sekarang kerja sulit, pemecah batu ini jadi mata pencarian alternatif. Walau penuh resiko, tapi sejauh ini belum ada pernah pekerja yang mengalami kecelakaan jaruh dari tebing terjal itu,” ucap Sanen.

Sekali-kali Sanen menatap tebing penuh batu itu, di bukit itu ia dan kawan-kawan mengantungkan nasib.

“Cukuplah untuk makan, disaat sulit seperti ini,” katanya.

Memecahkan batu di kaki bukit, menurut Sanen hanya butuh nyali dan skil memecahkan batu agar tidak membahayakan diri.

Dengan menggunakan tali ukuran sedang ia gunakan untuk memanjat sanpai diatas tebing. Tanpa alat penganan, Sanen menceritakan, palu dan pahat alat utama untuk memecahkan batu. Selain itu, agar batu mudah dipecahkan terlebih dahulu dibakar dengan kayu.

Sebagai pemecah batu yang dilakoni Sanen sejak kecil, tidak butuh waktu lama untuk mengumpulkan batu yang siap jual.

“Dua hari itu kerja cepat, kalau pembelinya ada bisa langsung ada duit.Kalau sepi pembeli ya, kita harus telpon kawan-kawan biar batu cepat terjual,” katanya.

Sanen yang hanya pernah belajar di sekolah dasar itu, bersyukur walau sehari-hari sebagai pemecah batu, ia dan kekuarganya hidup sederhana dan bahagia.

Hanya saja ada kekhawatiran Sanen dan kawan-kawan jika ada pelarangan dari petugas, tidak diperbolehkan lagi menecahkan batu-batu itu lagi.
Soalnya, itu masuk lokasi hutan lindung.

“Kalau nanti dilarang, ya kita engak bisa kerja lagi, mau kasi makan apa keluarga kita,” ucapnya.

RAMDAN

Pos terkait

Comment