Inflasi Tanjungpinang Diklaim Masih Wajar

  • Whatsapp
Wali Kota Tanjungpinang Syahrul bersama Wakil Wali Kota Tanjungpinang Rahma

BAROMETERRAKYAT.COM, TANJUNGPINANG. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Tanjungpinang terus konsen dalam mengendalikan Inflasi di Kota Tanjungpinang.

Pada bulan Oktober, Kota Tanjungpinang mengalami deflasi sebesar – 0,13% pada bulan kemarin sedangkan Batam mengalami deflasi sebesar -0,09 dan Nasional sebesar – 0,18 berdasarkan data yang di paparkan oleh BPS Kota Tanjungpinang dalam Rapat Rutin Bulanan TPID Kota Tanjungpinang di Ruang Rapat Kantor Walikota Tanjungpinang, Kamis (18/10).

Bacaan Lainnya

Meskipun begitu menurut data dari BPS perkembangan inflasi tahun kalender di Kota Tanjungpinang selama 9 bulan terakhir tahun 2018 terus berada di bawah tingkat inflasi Nasional dan Batam.

Hal ini menunjukan bahwa indikasi tingkat inflasi di Kota Tanjungpinang relatif cukup terkendali dengan rata-rata inflasi sebesar 0,18% perbulan.

Indeks Harga Konsumen (IHK) Kepri pada Oktober diperkirakan akan mengalami inflasi sebesar 0,51% (mtm) atau 3,11% (yoy).

IHK Tanjungpinang pada September diperkirakan juga akan mengalami inflasi sebesar 0,35% (mtm) atau 2,57% (yoy), sedangkan IHK Batam diperkirakan mengalami inflasi

sebesar 0,54% (mtm) atau inflasi 3,17% (yoy). Secara triwulanan, komoditas utama

penyumbang inflasi di Kepri adalah Cabai Merah, sedangkan komoditas utama penyumbang deflasi adalah Bawang Putih.

BPS juga menjelaskan beberapa faktor pendorong terjadinya inflasi pada bulan Oktober 2018 seperti curah hujan dan gelombang tinggi dapat memicu kelangkaan ikan segar serta menghambat jalur distribusi bahan makanan seperti cabai merah yang pola historisnya menunjukkan peningkatan inflasi sampai akhir tahun, serta dapat juga berdampak pada produksi sayuran.

Potensi kenaikan harga cabai merah karena penurunan pasokan seiring berakhirnya masa panen dimana berdasarkan pola historis inflasi komoditas menunjukkan tren meningkat pada September hingga akhir tahun serta mulai meningkatnya harga cabai merah di salah satu sentra pemasok Kepri yaitu Sumatera Barat.

Wacana kenaikan tarif batas bawah angkutan udara oleh Pemerintah yang dapat memicu inflasi angkutan udara dan

nilai tukar rupiah yang tertekan karena kondisi eksternal berpotensi memicu imported inflation.

Walikota Tanjungpinang Syahrul selaku pemimpin rapat mengatakan bahwa inflasi adalah sesuatu yang perlu kendalikan.

“Jika inflasi terlalu tinggi maka daya beli masyarakat akan turun begitu pula sebaliknya jika terlalu rendah maka pedagang akan rugi, oleh karena itu inflasi ini harus tetap dijaga.” Ungkapnya.

Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa kunci dari kenaikan harga untuk Kota Tanjungpinang hanya pada stok.

“Jika stoknya cukup maka harga di pasaran tidak akan ada gejolak.” Jelas Syahrul.

Oleh karena itu, pada rapat tersebut Syahrul meminta untuk rapat selanjutnya agar dapat mengundang para distributor untuk melihat kondisi stok bahan pokok yang ada pada distributor.***

Pos terkait

Comment