Delegasi AJI se-Indonesia Kagun Dengan Gurindam 12 Karya Sastra Raja Ali Haji di Pulau Penyengat

  • Whatsapp

Delegasi AJI se-Indonesia saat mengunjungi Masjid Kesultanan Kerajaan Riau Lingga di Pulau Penyengat Kota Tanjungpinang,Kepri ,Senin (21/9).
(fajitanjungpinang)


‎BR.TANJUNGPINANG – Rangkaian Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026 dilanjutkan Ke Kota Tanjungpinang Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau.Ssbelumnya delegasi 40 AJI se Indonesia
mengikuti kegiatan selama dua hari di kota Batam. Para peserta pada hari ketiga, Senin, 21 September 2026, melakukan Napak tilas sejarah dan intelektual Melayu di Pulau Penyengat, Tanjungpinang.

‎Perjalanan spritual mengunjungi situs sejarah peninggalan Kesultanan Kerajaan Riau Lingga tersebut menjadi bagian dari rangkaian puncak Fesmed Selat Malaka 2026 sebelum para peserta mengikuti sarasehan bersama AJI Indonesia dan AJI Kota dari berbagai daerah di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

‎Kegiatan napak tilas mengajak delegasi AJI dari berbagai kota di Indonesia mengunjungi sejumlah situs bersejarah di Pulau Penyengat, di antaranya Masjid Raya Sultan Riau, Gedung Tabib, serta kompleks makam Engku Puteri Raja Hamidah dan Raja Ali Haji.

‎Masjid Raya Sultan Riau menjadi salah satu titik awal perjalanan. Masjid tersebut tidak hanya dikenal sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki sejarah sebagai salah satu pusat pembelajaran pada masa lalu.

‎Dari kawasan masjid, peserta melanjutkan perjalanan menuju sejumlah situs lainnya sambil mendapatkan penjelasan mengenai sejarah Pulau Penyengat dan tokoh-tokoh yang memiliki kaitan dengan perkembangan intelektual dan kebudayaan Melayu.

‎Salah satu peserta, Sunu Diantoro, Ketua Bidang Pendidikan, Etik, dan Profesi Pengurus Nasional Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, mengaku mendapatkan pengalaman berbeda setelah melihat langsung tempat yang selama ini hanya dikenalnya melalui buku dan pelajaran.

‎Sunu mengatakan, selama ini ia telah mengenal Raja Ali Haji sebagai sastrawan Melayu, termasuk melalui karya Gurindam Dua Belas yang pernah dipelajari di sekolah maupun perguruan tinggi.

‎Namun, kunjungan ke Pulau Penyengat membuatnya dapat melihat langsung lingkungan dan tempat yang berkaitan dengan sejarah tokoh serta karya tersebut.

‎“Hari ini saya membuktikan apa yang selama ini diajarkan oleh para guru di Jawa sana dan juga apa yang saya baca dari banyak buku-buku tentang Raja Ali Haji sebagai seorang sastrawan yang mengarang kitab Gurindam 12 itu,” kata Sunu.

‎Menurutnya, selama ini ia tidak mengetahui secara langsung seperti apa lokasi yang berkaitan dengan sejarah Gurindam Dua Belas.

‎“Selama ini kami tidak pernah tahu seperti apa sih lokasi tempat bikin kitab Gurindam 12 itu. Dan saya hari ini menyaksikan itu,” ujarnya.

‎Sunu juga menilai sejumlah situs yang dikunjungi dalam kondisi cukup terawat. Ia mengaku menikmati kunjungan ke kompleks makam, termasuk makam Engku Putri Raja Hamidah dan Raja Ali Haji.

‎Ia turut mengapresiasi penjelasan pemandu, Raja Fahrul, yang menurutnya berupaya membedakan informasi berdasarkan referensi dengan hal-hal yang masih membutuhkan konfirmasi.

‎“Kalau ada sesuatu yang sifatnya dia pernah baca, dia akan kutip itu bukunya. Tapi kalau ada sesuatu yang sifatnya dia belum jelas, dia akan katakan bahwa ini perlu dikonfirmasi lagi,” kata Sunu.

‎Bagi Sunu, sikap tersebut menjadi pembelajaran penting dalam melihat informasi secara ilmiah, termasuk bagi kalangan jurnalis.

‎Menurutnya, napak tilas di Pulau Penyengat juga memperlihatkan bagaimana karya sastra masa lalu dapat membawa pesan yang masih relevan hingga sekarang.

‎Ia mencontohkan Gurindam Dua Belas yang memuat pesan mengenai hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan antarmanusia.

‎“Lewat sebuah karya sastra yang cukup kuat, dan saya kira karya sastra ini cukup abadi,” ujarnya.

‎Sunu juga melihat adanya peluang agar warisan tersebut suatu saat dapat didorong menjadi bagian dari warisan dunia yang didaftarkan ke UNESCO.

‎Menurutnya, Pulau Penyengat memiliki artefak dan peninggalan yang masih dirawat, sekaligus menyimpan pengetahuan dan hikmah yang masih dapat dipelajari hingga saat ini.

‎Ia menilai pesan mengenai kebijaksanaan dan keadilan menjadi nilai yang tetap relevan.

‎Ketika ditanya mengenai pengalamannya mengikuti napak tilas tersebut, Sunu menyebut kunjungan ke Pulau Penyengat sangat layak.

‎“Sangat worth it. Sangat worth it. Ini kunjungan sangat worth it,” katanya.

‎Delegasi Diperkenalkan Tradisi Makan Berhidang

‎Setelah mengikuti napak tilas, delegasi AJI se-Indonesia kemudian diperkenalkan dengan tradisi makan berhidang sebagai bagian dari santap siang sebelum mengikuti sarasehan.

Pos terkait

Comment