Mengembalikan Ruh Pendidikan: Sinergi Deep Learning Dan Kurikulum Berbasis Cinta Untuk Pembelajar Yang Holistik

  • Whatsapp

Oleh: Chalimatus sa’diyah

Mahasiswa Magister Pedagogi, Universitas Lancang Kuning

Paradigma pendidikan seringkali terjebak menuntaskan kurikulum berfokus pada kognitif, terkadang abai dalam menyentuh kedalaman pemikiran dan rasa peserta didik. Apalagi ditengah gegap gempita digitalisasi, kita menyaksikan fenomena “belajar di permukaan” (surface learning) di mana siswa hanya sekedar menghafal untuk menjawab ujian, dan lalu melupakan materi sesaat setela kertas jawaban dikumpulkan. Jika kondisi ini dibiarkan, pendidikan hanya akan melahirkan robot-robot intelektual yang cerdas secara kognitif namun kering secara empati.
Deep Learning (pembelajaran mendalam) megubah paradigma pendidikan bukan sekadar hafalan, hanya menyentuh lapisan kulit luar informasi, tapi menuntut siswa untuk mengaitkan ide-ide baru dengan pengetahuan sebelumnya, mencari makna di balik fakta, serta mampu menerapkan prinsip tersebut dalam situasi nyata.
Pembelajaran mendalam (Deep Learning) dan pembelajaran di permukaan (Surface Learning) merepresentasikan pendekatan kognitif yang memiliki perbedaan mendasar dalam memperoleh pengetahuan, ditandai dengan motivasi, strategi, dan hasil belajar yang berbeda. Menurut Mikhail Chalabine dkk. (2004), surface learning melibatkan pendekatan kuantitatif dan hafalan mekanis yang berfokus pada perolehan fakta tanpa pemahaman yang mendalam. Sebaliknya, Deep learning atau pembelajaran mendalam bukan sekadar tren teknologi, melainkan sebuah pendekatan yang menekankan pengalaman belajar yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Melalui prinsip ini, siswa tidak lagi hanya “sekolah tetapi tidak belajar,” melainkan diajak untuk menginternalisasi pengetahuan secara mendalam dan menghubungkannya dengan konteks kehidupan nyata. Dengan mengintegrasikan aspek olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olahraga, deep learning bertujuan membentuk lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki penalaran kritis, kreativitas, dan kemandirian yang kuat.
Krisis pendidikan yang kita hadapi hari ini bukanlah kurangnya informasi, melainkan hilangnya kedalaman makna dalam belajar. Selama bertahun-tahun, kelas-kelas kita didominasi oleh surface learning sebuah pendekatan yang oleh Mikhail Chalabine (2004) disebut sebagai hafalan mekanis yang kering, di mana siswa hanya mengejar fakta tanpa pemahaman. Fenomena ini menciptakan pembelajar pragmatis yang hanya berorientasi pada nilai ujian, namun gagal melihat keterhubungan antara ilmu pengetahuan dengan realitas kehidupan. Jika ilmu hanya dipandang sebagai fakta-fakta terpisah, maka pendidikan kehilangan “ruh” dan daya transformasinya.
Implementasi Deep Learning di ruang kelas, misalnya pada mata pelajaran IPA, tidak lagi sekadar menghafal klasifikasi makhluk hidup. Siswa diajak untuk menyelidiki mengapa suatu makhluk hidup harus dikelompokkan dan apa dampaknya jika rantai kehidupan tersebut terputus. Di sini, teori pendidikan konstruktivisme berperan penting, pengetahuan tidak ditransfer mentah-mentah dari guru ke peserta didik, melainkan dikonstruksi secara aktif melalui pengalaman dan refleksi.
Namun, kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk membentengi generasi muda dari krisis moral. Di sinilah Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) memainkan peran vitalnya sebagai “ruh” pendidikan. Kurikulum ini menempatkan kasih sayang sebagai landasan utama pembelajaran, yang mencakup lima pilar utama: cinta kepada Tuhan dan Rasul, ilmu pengetahuan, lingkungan, sesama manusia, serta tanah air. Dengan menyentuh aspek emosional dan spiritual, KBC berusaha menciptakan hubungan empatik antara guru dan siswa, sehingga sekolah menjadi ruang yang aman secara psikologis bagi anak untuk berkembang secara holistik.

Sinergi kedua konsep ini dapat diimplementasikan secara konkret dalam mata pelajaran . Kurikulum berbasis cinta atau pedagogi kasih sayang mengarahkan peserta didik untuk menumbuhkan empati. Ketika peserta didik mempelajari klasifikasi makhluk hidup mereka tidak hanya belajar kategori biotik dan abiotik. Mereka belajar bahwa tumbuhan yang mereka siram adalah sesama makhluk ciptaan yang butuh kepedulian. Ini sejalan dengan teori etika kepedulian (Ethics of Care) dari Nel Noddings (2013) , yang menekankan bahwa relasi kasih sayang antara guru, siswa, dan lingkungan adalah fondasi utama keberhasilan pendidikan.
Deep learning menuntut rekonstruksi pengetahuan dan analisis kritis yang holistik. Namun, transisi menuju pemikiran tingkat tinggi ini akan terasa gersang tanpa “insersi” Kurikulum Berbasis Cinta. Integrasi ini menjadi krusial, jika deep learning menyentuh aspek kognitif untuk memahami struktur yang kompleks, maka Kurikulum Berbasis Cinta menyentuh aspek afektif agar pemahaman tersebut digunakan untuk kebaikan.
Pendidikan yang ideal adalah ketika seorang siswa tidak hanya mampu menganalisis klasifikasi makhluk hidup secara tajam, tetapi juga memiliki motivasi intrinsik untuk menjaga kelestarian makhluk tersebut sebagai bentuk kasih sayang terhadap sesama ciptaan. Dengan memadukan kedalaman berpikir dan ketulusan hati, kita tidak hanya mencetak manusia yang cerdas secara akademik, tetapi juga pribadi yang utuh (holistik) yang mampu memecahkan masalah kompleks dunia dengan solusi yang manusiawi. Inilah jalan untuk mengembalikan “ruh” pendidikan kita yaitu mendalam dalam berpikir, namun luas dalam mencintai.
Mengembalikan “ruh” pendidikan yang belakangan ini cenderung mekanis dan formalistik memerlukan pendekatan holistik, salah satunya melalui sinergi integrasi Deep Learning dan kurikulum berbasis cinta. Pendidikan tidak seharusnya sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses pemanusiaan manusia yang menanamkan empati, kasih sayang, dan toleransi. Di sinilah deep learning berperan penting bukan sebagai pengganti guru melainkan sebagai pendekatan pembelajaran mendalam yang memungkinkan teknologi membantu menganalisis kebutuhan belajar siswa secara personal, sehingga guru memiliki lebih banyak waktu dan energi untuk melakukan pendekatan hati dengan Kurikulum Berbasis Cinta. Integrasi ini akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas intelektual dan adaptif terhadap teknologi di era digital, tetapi juga memiliki karakter adab yang kokoh dan kepedulian sosial yang tinggi, menjadikan pendidikan kembali bermakna dan memanusiakan manusia.
Mengintegrasikan Deep Learning dan nilai panca cinta dalam kurikulum Operasional di Madrasah bukan tanpa tantangan. Guru seringkali dikejar oleh target administratif dan tuntutan hasil nilai angka. Padahal, pendidikan yang mendalam membutuhkan waktu untuk berefleksi dan berdiskusi, bukan sekadar mengejar skor pilihan ganda. Oleh karena itu, diperlukan reorientasi dalam praktik pembelajaran. Guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber otoritas kebenaran, melainkan sebagai mitra berpikir bagi siswa. Pendekatan Problem Based Learning (PBL) dapat menjadi jembatan yang efektif, di mana masalah nyata di lingkungan sekitar dipecahkan dengan analisis yang tajam sekaligus hati yang peduli.
Harapan kita pendidikan di era kontemporer tidak boleh hanya fokus pada “apa” yang dipelajari, tapi “mengapa” dan “bagaimana” ilmu itu digunakan untuk kebaikan. Integrasi Deep Learning dan Kurikulum Berbasis Cinta adalah solusi pedagogis untuk menjawab tantangan krisis karakter dan rendahnya daya kritis generasi muda. Saatnya sekolah-sekolah kita tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga menjadi persemaian peradaban yang memanusiakan manusia dengan ilmu yang mendalam dan hati yang penuh cinta, kita bisa berharap lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas menaklukkan dunia, tetapi juga lembut dalam menjaga sesama.

Pos terkait

Comment